Sejumlah Contoh Kegagalan Besar Dalam Akuisisi Bisnis

Sebuah akuisisi terhadap perusahaan idealnya bisa meningkatkan dan memperbaiki kekuatan perusahaan yang mengakusisi, serta menghilangkan kelemahan. Ketika sebuah perusahaan besar bergabung, maka dalam teorinya perusahaan tersebut akan menjadi perusahaan yang semakin besar.

Sayangnya, ada beberapa akuisisi yang berakhir buruk. Inilah tiga akuisisi perusahaan yang berakhir dengan kegagalan bisnis. Setidaknya kasus ini bisa menjadi contoh bagi para pengusaha di Indonesia agar selalu memperhitungkan status kelayakan bisnis sebelum memutuskan untuk melakukan langkah ekspansi melalui akuisisi :

1. Kegagalan Hewlett-Packard Akuisisi Autonomy

Selama beberapa dekade, Hewlett-Packard telah menjadi salah satu perusahaan terbesar dan terbaik, serta dihormati dalam teknologi. Pendirinya, David Packard dan Bill Hewlett mendirikan perusahaan di California Utara pada tahun 1939, beberapa dekade sebelum Steve Jobs dan Steve Wozniak melakukan sesuatu yang mirip dengan mereka di bidang hardware komputer.

Namun dalam dekade terakhir, serangkaian skandal yang ditinggalkan chief executive telah meninggalkan tanda tanya besar mengenai apa yang salah. Satu contoh, akuisisi perusahaan perangkat lunak yang berbasis di Inggris, Autonomy, sebesar US$ 10,2 miliar.

Penyerapan Autonomy ke dalam perusahaan induknya itu lancar pada awalnya. Namun, setelah beberapa bulan, HP manajemen berpendapat bahwa Autonomy terlalu mahal. CEO Meg Whitman mengatakan Autonomy adalah "lebih kecil dan kurang menguntungkan daripada yang kami pikir". Hal ini meninggalkan pertanyaan bagaimana perusahaan itu bisa melebih-lebihkan ukurannya dan meyakinkan kepada perusahaan besar itu.

Pendiri Autonomy mengatakan mereka tidak melakukan sesuatu yang salah dan pihak HP hanya menutupi kebodohannya sendiri. Saat ini, Hewlett-Packard tengah menghadapi US$ 8,8 miliar write-off. Transisi ke sebuah perusahaan perangkat lunak ini memang akan mengalami perjalanan yang berliku.

2. Daimler Chrysler

Sebelum Chrysler menjadi perusahaan swasta, perusahaan ini merupakan perusahaan publik raksasa dalam industri Amerika. Perusahaan ini konsisten di posisi ketiga produsen mobil.

Pada tahun 1998, perusahaan ini menjadi subjek akuisisi perusahaan internasional terkenal. Produsen mobil asal Jerman, Daimler yang membuat Mercedes-Benz, bergabung dengan Chrysler melalui pertukaran saham sebesar US$ 39 miliar. Tak lama kemudian, pemegang saham Chrysler mengajukan gugatan.

Akhirnya, Chrysler dijual ke sebuah perusahaan ekuitas swasta, Cerberus Capital Management pada tahun 2007. Secara resmi, pertukaran itu seharga US$ 7,4 miliar. Dua tahun kemudian, pemilik baru Chrysler mengakui kebangkrutan dan dibailout menggunakan anggaran dari pajak.

3. AOL Time Warner

Tidak ada transaksi dalam sejarah akuisisi perusahaan yang mendekati petaka akuisisi AOL Time Warner. Hanya beberapa tahun yang lalu, hal itu terjadi pada perusahaan media terbesar dengan nilai US$ 30 miliar, Time Warner.

Pada tahun 2000, America Online (AOL), yang kemudian dikenal sebagian besar sebagai penyedia akses online, membeli "media lama", Time Warner sebesar US$ 164 miliar. Dalam 18 bulan, perusahaan telah melaporkan kerugian US$ 99 miliar. Selain itu, nilai dari gabungan perusahaan telah berkurang dari US$ 226 miliar menjadi US$ 20 miliar.