Benarkah Ralph Lauren Diambang Kebangkrutan?

Rumah mode asal AS, Ralph Lauren, menyatakan bakal memangkas setidaknya 1.200 karyawan atau sekitar 8 persen dari jumlah karyawan yang ada. Pemangkasan jumlah karyawan tersebut merupakan salah satu upaya penghematan biaya yang dilakukan Ralph Lauren.

Merek mode tersebut juga berencana menutup lebih dari 50 butiknya dan menyederhanakan struktur manajemen. Pihak Ralph Lauren menyebut, perampingan itu akan menghemat 180 juta dollar AS hingga 220 juta dollar AS per tahun.

Tahun lalu, Ralph Lauren yang tak lain adalah pendiri rumah mode yang terkenal dengan label Polo Ralph Lauren tersebut mundur dari jabatan CEO. Posisi Lauren digantikan oleh Stefan Larsson.

Pemangkasan bisnis ini adalah gerakan besar pertama yang dilakukan Larsson sebagai bos baru Ralph Lauren. Sebelumnya, Larsson dikenal karena keberhasilannya mengubah kerugian merek Old Navy milik Gap menjadi laba.

Pendapatan Ralph Lauren diprediksi bakal turun sebanyak satu digit pada kuartal-I 2016 dan dua digit untuk keseluruhan tahun 2016. Saham Ralph Lauren pun sudah anjlok 30 persen dalam setahun terakhir.

Sektor mode mewah sudah terpukul dengan turunnya penjualan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, Ralph Lauren harus berjuang menyesuaikan penjualan dengan menumpuknya stok produk busana dan aksesori.

Dalam tiga tahun terakhir, penjualan naik 7 persen. Namun, tingkat stok meningkat 26 persen. Disparitas ini mendorong Ralph Lauren untuk menawarkan diskon yang malah membuat eksklusivitas mereknya terkikis di mata konsumen.

Ralph Lauren, yang dikenal dengan produk berlogo pemain polo, menyatakan bakal fokus pada merek-mereknya yang paling populer, yakni Ralph Lauren, Polo, dan Lauren.