Belajar Dari Kegagalan Bisnis Nokia

Nokia yang pernah begitu mendominasi pasar ponsel di seluruh dunia, siapa sangka akhirnya bisa terjungkal dengan cepat. Siapapun bisa mengalaminya, bahkan penguasa saat ini sekalipun.

Dahulu dengan kondisi yang sangat sehat, siapa yang menyangka hanya butuh kurun waktu lima tahun, Nokia bisa dilepas ke Microsoft dengan harga yang relatif murah.

Para analis sebetulnya sudah meyakini bahwa ini akan terjadi. Pasalnya, Nokia terlalu cepat sukses dan manajemen yang 'mabuk' pada kesuksesan diri mereka sendiri.

"Nokia terlalu sombong dan sebagai hasilnya mereka terlambat dalam melakukan inovasi sebagai reaksi terhadap perubahan di dunia sekitar mereka," ujar Petri R Rouvinen dari Thin Tank Etla seperti dilansir The Globe Journal.

Dia menyoroti kesuksesan iPhone dan Android yang notabene merupakan perusahaan yang menjungkalkan mereka saat ini. Satu hal yang dipunyai keduanya dan tak dilakukan oleh Nokia, handset dan sistem operasi berjalan beriringan.

Tidak hanya iPhone, dengan layar sentuh menjadi fashion item panas di seluruh dunia, tetapi juga sistem operasi dan aplikasi menjadi ladang uang bagi Apple juga.

Ketika Google melepas Android tahun 2009, menjadi jelas bahwa produsen handset telah kehilangan dominasi ke sistem operasi yang menghasilkan pendapatan dari aplikasi yang dijual kepada pengguna.

"Sejak tahun 2007 di mana iPhone diperkenalkan, kita tidak lagi mungkin untuk mempertimbangkan telekomunikasi, elektronik konsumen dan komputer sebagai sektor yang terpisah. Sekarang hanya ada satu industri dan itu digital,” sebut Rouvinen lagi.

Nokia terus mengembangkan sistem operasi Symbian, sayangnya semua itu terlambat. Dia menandaskan, Perusahaan kadang-kadang perlu membuat hal yang sulit, seperti pilihan radikal untuk memfokuskan kembali bisnis mereka.