Meraup Omzet Puluhan Juta Dari Bisnis Sushi

Memulai sebuah mimpi dan usaha memang tidaklah mudah. Perlu perjuangan yang berat, bahkan tidak jarang yang mendapatkan cibiran dari orang-orang sekitar.

Hal itu pulalah yang dialami oleh pemilik usaha kuliner Family Sushi, Charles Susanto, dan Yovita Lorencia. Charles mengatakan, awalnya dia memulai bisnis sushi tersebut pada tahun 2012.

Saat itu, dia baru saja lulus SMA. “Saya bingung, setelah lulus ini mau ke mana dan harus berbuat apa, sedangkan saya tidak ingin merepotkan orangtua,” kata Charles.

Karena itu, dia pun memulai usaha dengan bisnis kuliner, tepatnya makanan khas Jepang, sushi. Charles memulai bisnisnya dengan modal sebesar Rp500 ribu.

“Uang itu merupakan gabungan uang saku saya dengan Yovita, yang kami sisihkan selama ini,” ucap Charles.

Dengan modal yang terbilang sangat kecil, ketika itu Charles hanya bisa memproduksi sushi sebanyak lima kemasan. Charles kemudian memasarkan produk itu ke kantin salah satu SMA di Surabaya.

Setiap kemasan sushi yang berisi tujuh buah itu mereka jual dengan harga Rp10 ribu. Menurutnya, dia tidak bisa menjual sushi tersebut dengan harga tinggi, karena menyesuaikan dengan pangsa pasar.

“Kalau anak sekolahan kami kasih harga yang tinggi, pasti akan sulit lakunya,” tutur Charles lalu tersenyum.

Namun, usaha mereka tidaklah berjalan mudah. Sebab, pada tiga bulan pertama, omzet yang mereka dapatkan hanya sebesar Rp800 ribu setiap bulannya.

“Padahal, kami harus mulai membuat sushi itu sejak pukul 24.00 WIB, dan menjualnya pukul 06.30 WIB. Orangtua juga bilang kalau hasil yang kami dapatkan itu jauh dari layak,” urai Charles.

Seiring berjalannya waktu, usaha sushi itu pun kian berkembang. Mereka melakukan berbagai cara untuk memasarkan usahanya.

Salah satunya dengan memasarkannya via online. Tepatnya dengan melalui YouTube, serta berbagai akun media sosial.

“Ternyata cukup efektif juga, buktinya omzet kami naik hingga Rp50 juta pada saat ini,” jelas Charles.

Tidak hanya itu, saat ini mereka juga sudah mampu mempekerjakan sejumlah karyawan. “Ada 15 orang. Kami sangat senang dengan capaian ini, karena kami juga juga bisa membuka peluang baru, membuka stan di salah satu mal, dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain,” ungkap Charles.